Posted in Cerita Islami, hikmah, ilmu, Motivation

Pesan Tersirat Seorang Ayah

Sampai kapanpun permaian ini akan selalu akan digemari dan menjadi kenangan indah bagi kami, anak-anak desa.

“ayo kettek mi, bidik ke yang ini aja. kamu kenain sampingnya jadi nanti serambang dengan yang sebelah sini” intruksi teman saya seakan akan menajdi pelatih baik kelerengku. Dia tahu bahwa saya paling jago kalau soal membidik namun dia lebih jago melihat peluang. Kuputar badanku 900 untuk membidik kelereng sesuai perintahnya.

“brakkkk”

Semua orang berlarian menuju suara itu. Tawanaan dan keseruan kamipun menjadi tegang dan bertanya-tanya darimana suara itu berasal, tak sempat 5 detik kami melihat kejadian yang bersal dari sumber suara tersebut. Itu bukan suara kelereng yang saya bidik tapi suara tabrakan motor. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun terhampar + 9 meter dari titik awal dia ditabrak, pelaku kemudian melarikan diri sekencang mungkin yang kebetulan lewat didepan kami. Seperti biasa kalau kejadian seperti ini pasti si pelaku penabrak akan bonyok duluan sebelum dibawa ke pihak yang berwajib.

teman-teman seperjuanganpun melemparnya dengan kelereng akupun tak mau kalah dengan kesempatan ini, kulemparkan kelereng yang masih ditanganku. Badanku yang masih kecil dan umurku yang masih 10 tahun tentu tidak akan bisa mengejar pelaku tersebut yang kami bisa hanyalah meramaikan suasana dengan membantu seadanya, teriak teriak dan lain sebagainya.

Kulihat sosok bijaksana keluar dari pintu rumah, dari rautan mukanya aku sudah bisa menebak bahwa dia penasaran tentang kejadian ini.

“ada apa nak” tanyanya heran.

“Pa tadi Abil ditabrak, yang menabrak di kejar orang-orang kearah sawah, tadi saya juga lempar pakai kelereng tapi tidak kena” ceritaku dengan penuh kebanggakan.

Sesaat kemudia raut wajah yang penuh penasaran tadi mulai memerah, matanya melotot dengan tajam melihat kearahku seprti elang melihat mangsanya. Tangan kananku diangatnya, badanku tergantung seperti anak kecil yang memegang kucing kaki kucing. Sesampai aku diletakan dikursi mata yang tadi tidak berubah tetap melotot kearahku.

“SIAPA YANG MENGAJARIMU SEPERTI ITU” bentak ayahku.

“tidak ada pa” jawabku sambil menangis

“PAPA PERNAH MENGAJARMU MELEMPAR ORANG, GURU-GURU DISEKOLAH PERNAH MENGARMU MELEMPAR ORANG HAA” nadanya makin tinggi dibarengin dengan pukulan meja yang membuatku kaget dan makin menangis.

“tidak pak, ti-ti-tidak ada” jawabku sambil menahan tangisku.

“jangan pernah lakukan itu lagi, sana masuk kamar jangan keluar” perintahnya dengan nada yang sedikit menurun.

Dikamar akupun merenung kenapa saya yang dimarahin, bukankah yang kulakukan adalah kebaikan.?

 

Orang tuaku memang sangat jarang berbicara dengan ku beliau seringnya memperaktekan kebaikanya langsung di depan anak-anaknya, sangat jarang dengan ucapan.

Kejadian itu menjadi pesan tersirat yang disampaikan orang tuaku karena beliau tahu bahwa tidak ada suatu kesalahan yang disengaja, membalas dengan keburukan adalah tindakan yang sia-sia bahkan akan menimbulkan perkara baru. Membalas kesalahan dengan kebaikan adalah tindakan mulia, menemukan solusi dari suatu masalah adalah kebijaksanaan.

“balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik”

Q.S. Al-Mu’minun : 96

Advertisements
Posted in ilmu

P-ujian

“dipuji jauh lebih bahaya daripada di caci. Karena kalau dipuji kita lebih percaya omongan orang daripada kebenaran pada diri sendiri”

(K.H Abdullah Gymnastiar)

~A’a Gym~

Pujian adalah salah satu senjata berbahaya yang menghanguskan pahala kita, sering kita melakuka terobosan baru, amal yang banyak, sesuatu hal yang sangat bermanfaat buat orang banyak namun semuanya hanya akan sia sia jika kita ingin dilihat dan mengemis pujian mereka.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أَحْثُوا فِي أَفْوَاحِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ-البيهقي

“Lemparkan tanah kepada mulut orang-orang yang suka memuji “

(Al Baihaqi, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi).

Ungkapan “lemparkan tanah” adalah kiasan dari penolakan dan sanggahan atas pujian, dan itu berlaku kepada orang-orang yang biasa memberikan pujian sampai ia menjadikan kebiasaan itu sebagai bekal mencari penghidupan, sehingga tidak boleh memberikan apapun untuk mereka, karena pujian yang mereka berikan.

Namun ada juga yang ulama yang memaknai hadits ini secara dzahirnya, yakni melemparkan tanah kepada orang yang suka memuji, dengan mengambil segenggam tanah kemudian melemparkannya kepada mereka sambil mengatakan,”Kelak harga makhluk sama dengan ini, siapa aku dan apa kemampuanku”.Hal itu dilakukan agar pihak yang mamuji dan yang dipuji sama-sama menyadari mertabatnya.

Imam An Nawawi menyabutkan bahwa pujian ada dua, pujian di saat yang dipuji tidak ada dan pujian di hadapan orang yang dipuji. Untuk yang pertama dibolehkan selama tidak ada unsur kebohongan. Jika ada unsur itu maka hal itu dilarang, namun bukan pujiannya melainkan kebohonganya. Adapun jika pujian dilakukan di depan yang bersangkutan maka ada nash yang membolehkan ada nash yang melarang seperti nash di atas. Dan untuk mengkompromikan keduanya, maka dilihat kondisi pihak yang dipuji. Jika yang dipuji imannya sempurna hingga pujian itu tidak menggelincirkannya maka hal itu boleh dilakukan, bahkan hukumnya mustahab jika ada maslahat. Namun jika ditakutkan pihak yang dipuji bakal terlena, maka makruh memberikan pujian. (lihat, Faidh Al Qadir, 1/236,237

*baca:(http://www.hidayatullah.com/kajian/lentera-hidup/read/2013/09/17/6415/lemparkan-tanah-pada-orang-yang-suka-memuji.html )

Jagalah hati kita ketika hendak melakukan sesuatu dan apapun tentunya dalam hal kebaikan dan kebenaran. Ketika hendak melakukan kebaikan maka koreksilah terlebih dahulu hati kita buat apa kebaikan ini saya lakukan, untuk siapa perbuatan ini ? kalau untuk dilihat orang maka istigfarlah mohonlah ampun kepada Allah dan lakukanlah kembali dengan niat karenaNya. .

Namun pada hakekatnya puian itu diperbolehkan kecuali

  1. Pujian yang berlebihan.
  2. Pujian yang mengandung sifat yang tidak ada pada diri orang yang dipuji.
  3. Pujian yang menimbulkan fitnah (timbul ujub, menyombongkan diri) pada orang yang dipuji.(https://rumaysho.com/2005-menyiramkan-pasir-pada-wajah-orang-yang-memuji.html)

Namun sebisa mungkin kita menghindari pujian di hadapan orang lain. Adapun kalau pujian tersebut tidak di hadapann orang yang dipuji dan itu benar ada padanya, maka tidak ada masalah.

________________________________________________________________

“Buat apa dipuji kalau hanya akan merendahkan diri dihadapan Sang iLlahi”

________________________________________________________________pujian1.jpg

#CeritaAnakRantau