Posted in ilmu

P-ujian

“dipuji jauh lebih bahaya daripada di caci. Karena kalau dipuji kita lebih percaya omongan orang daripada kebenaran pada diri sendiri”

(K.H Abdullah Gymnastiar)

~A’a Gym~

Pujian adalah salah satu senjata berbahaya yang menghanguskan pahala kita, sering kita melakuka terobosan baru, amal yang banyak, sesuatu hal yang sangat bermanfaat buat orang banyak namun semuanya hanya akan sia sia jika kita ingin dilihat dan mengemis pujian mereka.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أَحْثُوا فِي أَفْوَاحِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ-البيهقي

“Lemparkan tanah kepada mulut orang-orang yang suka memuji “

(Al Baihaqi, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi).

Ungkapan “lemparkan tanah” adalah kiasan dari penolakan dan sanggahan atas pujian, dan itu berlaku kepada orang-orang yang biasa memberikan pujian sampai ia menjadikan kebiasaan itu sebagai bekal mencari penghidupan, sehingga tidak boleh memberikan apapun untuk mereka, karena pujian yang mereka berikan.

Namun ada juga yang ulama yang memaknai hadits ini secara dzahirnya, yakni melemparkan tanah kepada orang yang suka memuji, dengan mengambil segenggam tanah kemudian melemparkannya kepada mereka sambil mengatakan,”Kelak harga makhluk sama dengan ini, siapa aku dan apa kemampuanku”.Hal itu dilakukan agar pihak yang mamuji dan yang dipuji sama-sama menyadari mertabatnya.

Imam An Nawawi menyabutkan bahwa pujian ada dua, pujian di saat yang dipuji tidak ada dan pujian di hadapan orang yang dipuji. Untuk yang pertama dibolehkan selama tidak ada unsur kebohongan. Jika ada unsur itu maka hal itu dilarang, namun bukan pujiannya melainkan kebohonganya. Adapun jika pujian dilakukan di depan yang bersangkutan maka ada nash yang membolehkan ada nash yang melarang seperti nash di atas. Dan untuk mengkompromikan keduanya, maka dilihat kondisi pihak yang dipuji. Jika yang dipuji imannya sempurna hingga pujian itu tidak menggelincirkannya maka hal itu boleh dilakukan, bahkan hukumnya mustahab jika ada maslahat. Namun jika ditakutkan pihak yang dipuji bakal terlena, maka makruh memberikan pujian. (lihat, Faidh Al Qadir, 1/236,237

*baca:(http://www.hidayatullah.com/kajian/lentera-hidup/read/2013/09/17/6415/lemparkan-tanah-pada-orang-yang-suka-memuji.html )

Jagalah hati kita ketika hendak melakukan sesuatu dan apapun tentunya dalam hal kebaikan dan kebenaran. Ketika hendak melakukan kebaikan maka koreksilah terlebih dahulu hati kita buat apa kebaikan ini saya lakukan, untuk siapa perbuatan ini ? kalau untuk dilihat orang maka istigfarlah mohonlah ampun kepada Allah dan lakukanlah kembali dengan niat karenaNya. .

Namun pada hakekatnya puian itu diperbolehkan kecuali

  1. Pujian yang berlebihan.
  2. Pujian yang mengandung sifat yang tidak ada pada diri orang yang dipuji.
  3. Pujian yang menimbulkan fitnah (timbul ujub, menyombongkan diri) pada orang yang dipuji.(https://rumaysho.com/2005-menyiramkan-pasir-pada-wajah-orang-yang-memuji.html)

Namun sebisa mungkin kita menghindari pujian di hadapan orang lain. Adapun kalau pujian tersebut tidak di hadapann orang yang dipuji dan itu benar ada padanya, maka tidak ada masalah.

________________________________________________________________

“Buat apa dipuji kalau hanya akan merendahkan diri dihadapan Sang iLlahi”

________________________________________________________________pujian1.jpg

#CeritaAnakRantau

Advertisements

Author:

You can get anithings if you try and pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s